Nilai Sosial dan Religi Kunci Menjadi Konselor yang Efektif
![]() |
| Sumber Foto: Dok.Humas Untag Sby |
Jika ingin menjadi konselor yang baik dan efektif, milikilah nilai sosial dan nilai religi yang tinggi dibanding nilai-nilai yang lain. Hal tersebut disampaikan oleh Dra. Tatik Melayuntariningsih, M.Kes., Psikolog dalam Workshop “Menjadi Konselor yang Efektif”, Rabu (20/2). “Akan berbeda sekali apabila nilai lain yang ia pegang, contohnya apabila nilai ekonomi. Orientasinya pasti beda, ketulusan dalam konselingnya nanti beda,” ujarnya dalam workshop yang bertempat di Meeting Room, Gedung Graha Wiyata lantai 9 Untag Surabaya.
Selain dua nilai tersebut, ada banyak ciri pribadi konselor efektif yang ia paparkan dalam materinya. Memiliki kondisi emosi yang stabil dan mampu menjadi model yang baik merupakan beberapa ciri konselor efektif. “Menghargai fakta, bertanggung jawab, berpegang teguh pada kode etik profesi, ramah serta sabar merupakan ciri lain pribadi konselor yang efektif,” tambahnya.
Wakil dekan Fakultas Psikologi Untag Surabaya ini kemudian menjelaskan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahap-tahap konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. Perilaku attending seperti memberi respon pendek merupakan tahap pertama konseling yang mampu mendorong konselor agar terus menceritakan permasalahannya. “Merespon dengan “O, ya?”, “Hmm”, “Lalu?” seperti itu menunjukkan bahwa kita memperhatikan dan mendengarkan dengan baik,” terangnya. “Dan perilaku ini sejalan dengan empati. Namun memang perlu bijaksana dalam menggunakannya,” tambahnya.
Tahap selanjutnya ialah refleksi isi. Dalam tahap ini, refleksi isi atau paraphrasing berisi menyatakan kembali esensi atau inti yang dibicarakan oleh konseli melalui kata-kata lain, bahasa konselor. “Hal yang sama juga dilakukan pada tahap refleksi perasaan. Konselor sekaligus mengungkapkan isi pikiran maupun perasaan yang dialami oleh konseli,” paparnya. Konselor juga diperkenankan bertanya jika ada yang kurang dipahami, baik berbentuk pertanyaan terbuka maupun pertanyaan tertutup.
“Terakhir adalah penyimpulan, bisa berupa reframming atau mengubah cara pandang konseli dalam melihat sisi positif masalahnya, atau konfrontasi saat ada inkonsistensi informasi. Bisa juga mengubah keyakinan yang salah, atau exploring option seperti menjabarkan pilihan dan facilitate action atau mengambil tindakan apabila konseli tidak punya alternatif penyelesaian masalah,” jelasnya. (ua/aep)
| www.untag-sby.ac.id |

Komentar
Posting Komentar